Faktanya Tidak Banyak Sarjana IT Di Indonesia Yang Jadi “Programmer”

0
11

Tahukah sobat Devhoz, jumlah programmer yang ada saat ini disebut masih belum memenuhi ambisi Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2025 mendatang.

Kira-kira apa saja yah penyebab nya? Mari simak pendapat CEO Dicoding, Narenda Wicaksono.

Meski jumlah lulusan pendidikan vokasi maupun sarjana teknologi informatika (TI) di Indonesia cukup banyak, namun tidak sepenuhnya terserap ke industri digital dan menjadi seorang programmer. “Saya mengidentifikasi adanya tiga masalah, yang pertama adalah kurikulum.” jelas CEO developer startup lokal, Dicoding, Narenda Wicaksono di Jakarta.

Kurikulum

Menurut pria yang akrab disapa Naren itu, butuh waktu empat tahun bagi perguruan tinggi untuk memperbaharui kurikulum, hal ini disebutnya terlalu lama, sementara teknologi berkembang secara cepat.

Kualitas Pengajar TI

Kualitas pengajar TI yang belum merata juga menjadi masalah berikutnya yang harus dibenahi. Masih banyak pengajar TI yang harus meningkatkan kompetensinya agar transfer ilmu ke mahasiswa lebih maksimal.

Sumber Daya Manusia

Sementara itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi masalah berikutnya. Naren mengatakan, kualitas input SDM di Indonesia juga belum merata.

“Di Indonesia, belajar logika itu belum menjadi kewajiban, karena kebanyakan masih menggunakan sistem hafalan. Sehingga input fundamental rata-rata belum punya standar yang dibutuhkan untuk melewati kelas programming secara penuh,” lanjutnya.

Ketiga kendala di atas membuat ketimpangan antara kebutuhan programmer di perusahaan saat ini dan jumlah programmer yang siap dan sesuai kompetensi.

Upaya kolaboratif

Fakta lain yang ditemukan, walaupun mayoritas responden merupakan lulusan TI, namun dua dari tiga responden mengaku baru “merasa” belajar programming setelah mengikuti kursus online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here